Giuliano: Playmaker Brasil yang Pernah Jadi Raja di Zenit, Tapi Jarang Dibahas Dunia

Dalam dunia sepak bola, ada pemain yang gak pernah jadi headline, tapi diam-diam produktif, jago, dan selalu bikin timnya lebih hidup.
Giuliano masuk kategori itu.

Dia bukan Neymar, bukan Kaká. Tapi kalau lo nonton Liga Rusia, Süper Lig, atau bahkan Libertadores di awal 2010-an, nama Giuliano bakal lo inget sebagai:

  • Gelandang serang yang lincah
  • Tajam di kotak penalti
  • Umpan-umpannya selalu mengarah ke bahaya

Dan ya, dia juga pernah jadi andalan timnas Brasil saat semua pemain bintang lagi absen. Jadi, siapa sebenarnya Giuliano?


Awal Karier: Dibentuk di Paranaense, Melejit di Internacional

Giuliano lahir 31 Mei 1990 di Curitiba, Brasil. Sejak kecil dia dikenal:

  • Lincah
  • Kreatif
  • Punya visi umpan matang
  • Dan bisa cetak gol dari lini kedua

Debut profesionalnya dimulai di Paranaense, tapi baru benar-benar booming setelah pindah ke Internacional pada 2009.
Di klub itu, Giuliano:

  • Bantu tim juara Copa Libertadores 2010
  • Jadi pemain muda terbaik turnamen
  • Bikin klub-klub Eropa mulai mantau

Gak lama, datang tawaran dari Ukraina.


Pindah ke Dnipro: Petualangan Pertama di Eropa

Giuliano gabung Dnipro Dnipropetrovsk (Ukraina) tahun 2011.
Walau bukan liga top, Dnipro waktu itu serius:

  • Banyak pemain Brasil
  • Proyek jangka panjang
  • Main di Europa League

Giuliano:

  • Main 80+ laga
  • Cetak 16 gol
  • Tampil konsisten dan disiplin
  • Adaptasi gaya Eropa cukup mulus

Tapi spotlight sebenarnya baru datang pas dia pindah ke Rusia.


Zenit Saint Petersburg: Di Sini Giuliano Jadi Bintang

Tahun 2016, Giuliano gabung ke Zenit Saint Petersburg, dan… boom.
Langsung klik sama sistem dan atmosfer tim.
Zenit waktu itu:

  • Lagi banyak pemain Brasil (Hulk, Javi García, dll.)
  • Punya proyek ambisius
  • Main di Eropa

Musim pertamanya (2016–2017):

  • Cetak 17 gol & 13 assist dalam 43 pertandingan
  • Salah satu gelandang paling produktif di Eropa musim itu
  • Main di Champions League dan Europa League

Dia tampil sebagai:

  • No. 10 klasik
  • Bisa juga di sayap kanan, masuk ke tengah
  • Sering jadi target late run di kotak penalti

Gaya mainnya itu kayak kombinasi:

  • Lucas Paquetá versi awal
  • Coutinho tapi lebih kalem
  • Oscar tapi lebih direct

Fenerbahçe & Petualangan di Süper Lig

Giuliano kemudian pindah ke Fenerbahçe di Turki, dan langsung disambut dengan hype tinggi.
Fans berharap dia jadi pengganti jangka panjang Alex de Souza.

Meski gak segila Alex, dia tetap:

  • Cetak 15 gol di musim perdananya (2017–18)
  • Jadi motor serangan tim
  • Punya chemistry kuat dengan penyerang

Tapi karena urusan finansial klub, dia dijual ke Arab Saudi.
Yup, masih muda (28), tapi udah masuk Middle East.


Timnas Brasil: Andalan di Masa Transisi

Giuliano punya 14 caps dan 2 gol buat Brasil.
Dia bukan starter tetap, tapi jadi bagian penting saat:

  • Brasil kekurangan AMF natural
  • Neymar absen
  • Oscar & Kaká udah lewat masa emas

Dia dipanggil ke:

  • Copa América 2011 & 2016
  • Beberapa laga kualifikasi Piala Dunia

Kalau bukan karena generasi emas Brasil di posisi gelandang, mungkin Giuliano bakal lebih sering dipanggil.


Gaya Main: No. 10 Lincah, Produktif, dan Punya Naluri Finishing

Ciri khas Giuliano:

  • Dribel pendek tajam
  • Selalu nyari celah buat umpan
  • Jago eksploitasi space antar lini
  • Bisa tembak dari luar kotak
  • Punya timing bagus buat masuk kotak penalti

Dia bukan gelandang yang suka banyak gaya. Tapi dia efisien banget.
Gak banyak dribel konyol — semua ada tujuannya.

Cocok di:

  • Sistem yang pakai 4-2-3-1
  • Transisi cepat
  • Kombinasi passing pendek

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan:

  • Teknik tinggi
  • Finishing klinis buat ukuran gelandang
  • Bisa adaptasi di banyak liga
  • Gak egois, tahu kapan lepas bola

Kekurangan:

  • Kurang agresif secara fisik
  • Kadang hilang kalau lawan main pressing
  • Gak cocok main di double pivot

Setelah Puncak: Al Nassr, Brasil Lagi, dan Penurunan Karier

Setelah Fenerbahçe, Giuliano pindah ke:

  • Al Nassr (Arab Saudi): 2018–2020
  • Lalu balik ke Brasil: Grêmio, Atlético Mineiro
  • Juga sempat main di Kayserispor (Turki)
  • Per 2024, masih aktif, tapi gak lagi di level top

Kariernya jelas udah menurun, tapi skill dan experience-nya masih dihargai.
Bisa jadi dia bakal pensiun di klub Brasil atau Arab.


Statistik Karier (per 2024)

  • Internacional: 80+ laga
  • Dnipro: 87 laga – 16 gol
  • Zenit: 43 laga – 17 gol
  • Fenerbahçe: 30 laga – 15 gol
  • Timnas Brasil: 14 caps – 2 gol
  • Trofi besar:
    • Copa Libertadores 2010
    • Liga Rusia
    • Piala domestik Ukraina & Brasil

Kenapa Giuliano Underrated?

  1. Gak main lama di liga top Eropa
  2. Jarang disorot media barat
  3. Gak tampil di Piala Dunia
  4. Karier lebih stabil di Eropa Timur & Timur Tengah

Tapi buat fans Rusia, Turki, dan Brasil — dia itu definisi “pemain elegan yang gak banyak drama, tapi selalu efektif.”


Kesimpulan: Giuliano, Si No. 10 Tenang yang Bikin Tim Jalan Tapi Gak Cari Spotlight

Giuliano mungkin gak punya branding besar.
Tapi dia adalah contoh pemain yang selalu kasih hasil:

  • Jago assist
  • Tajam dari lini kedua
  • Gak neko-neko
  • Bisa nyetel di banyak sistem

Dan meskipun namanya gak bakal masuk jajaran legenda Brasil, buat yang ngerti bola, dia tetap spesial.

Gak semua pemain harus viral buat bisa dihargai. Giuliano cukup pakai otak dan kaki kiri buat ninggalin jejak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *